Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Jumat, 24 Januari 2014

Doa Ibunda


Dunia. Andai kau tahu dan dapat menceritakan pada semesta tentang kasih sayang seorang ibu yang paling dalam adalah, ketika melihat anaknya tersenyum, dalam kebahagiaan. Seperti embun yang menyejukkan rumput-rumput hijau ketika mentari menyembul. Seperti udara yang menyeka peluh. Seperti unggun yang menghangatkan tubuh. Seperti matahari yang terus bersinar menerangi semesta.
Kasih sayang seorang ibu. Sungguh tak terkira limpahannya. Apapun akan ibu lakukan demi membuatnya anaknya senang. Ya, hanya demi membuat separuh hatinya itu merasa bungah. Ibu rela bekerja keras. Rela membanting tulang. Mati-matian bercucuran keringat. Mencari penghasilan. Agar anaknya tetap bisa makan. Bisa bersekolah.
Begitupun dengan Bu Syalimar. Seorang janda yang di usia senjanya kini masih dia pergunakan untuk mencari nafkah demi membuat anaknya tetap bisa bersekolah. Tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak seperti yang pernah mereka –Bu Syalimar dan suaminya– cita-citakan. Namun, harapan itu sekarang hanyalah fatamorgana.
Fahri! Dia sudah jauh berubah. Tak lagi seperti remaja santun saat dia tinggal bersama ayahnya dulu. Kini, Fahri tak mempunyai panutan. Liar. Lebih suka keluar rumah malam-malam dan tak bisa dikendalikan. Tidak ada tempat dan tujuan. Ia seperti gelandangan. Yang patut dikasihani orang. Di rumah, ibunya menangis menanggung beban. Malu, anaknya telah menjadi gunjingan dan buah bibir setiap orang.
Bu Syalimar duduk di depan meja makan. Sesekali matanya menatap hidangan kesukaan Fahri. Tertata rapi di meja persegi. Seketika rasa cemas dan khawatir menggerogoti pikiran dan hati Bu Syalimar. Mengapa hingga larut malam sang anak belum juga pulang. Padahal di luar hujan terus menerjang. Dinginnya tak tertahankan. Kasihan Fahri. Dimana kamu, Nak?
Bu Syalimar cemas dan tak berhenti mondar mandir. Tak jauh hatinya terus bertakbir. Bibirnya bergetar mengucap istigfar. Hatinya merintih-rintih melafal tasbih. Bu Syalimar masih cemas. Ia sangat cemas. Seharian Fahri belum mencicipi nasi. Perutnya pasti belum terisi. Dimana kamu, Nak?
Di singkapnya tirai jendela pelan. Dilihatnya rintik-rintik hujan berjatuhan. Membuat hatinya teriris-iris. Bu Syalimar menangis. Bayangannya kini menatap Fahri merengkuh, kedinginan dan kelaparan. Sudah seharian dia tidak pulang. Kenapa tiap malam harus keluar? Apa kamu masih marah pada ibu? Kemana kamu, Nak?
Fahri duduk di sebuah bar. Matanya liar menatap pengunjung yang lalu lalang. Akal sehatnya tak lagi terjaga. Hanyalah uang, uang, dan uang dalam benaknya. Peduli apa? Ibunya sudah renta. Naluri Fahri tak seirama, hati dan jiwanya terluka. Tak lepas doa baginya. Usaha. Itulah jalan yang sudah ia tempuh. Untuk orang terdekatnya.
Fahri menghampiri gadis-gadis asusila. Yang terbiasa mengumbar aurat tanpa kenal dosa. Tak sadar malaikat mencacat setiap titik noda dan pahala. Tak akan lewat satupun kelak perhitungan Tuhan Yang Maha Mulia. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada yang diuntungkan. Semua, tergantung perbuatan.
Keluar dari bar, Fahri tidak langsung pulang. Padahal ibunya masih bersabar menunggui meski matanya lengket hingga terkantuk-kantuk. Fahri pergi ke rumah kawannya. Makan malam bersama mereka. Sementara sang ibu. Masih tetap menunggu. Kini, perutnya perih. Sesekali Bu Syalimar merintih.
Tubuh Fahri menggigil kedinginan. Ia berjalan mengendap-endap menghindari ibunya yang terlelap di ruang makan. Suara hati ibu yang penuh kasih dan cinta selalu di jaga oleh Yang Maha Kuasa dan itu tak bisa dipungkiri. Bu Syalimar pun terjaga menyadari Fahri kembali.
“Fahri… kamu dari mana saja, Nak…?” Fahri diam. Menatap ibunya mengiba.
“Fahri… ayo makan dulu, ibu sudah masak makanan kesukaanmu. Sate kerang. Ada tumis kangkung. Ayo, ibu juga sudah lapar. Kita makan sama-sama, Nak…” Fahri hanya diam menatap ibunya yang tiba-tiba sibuk di depan meja makan.
“Fahri sudah makan!” pungkasnya lalu beranjak hingga akhirnya lenyap di balik pintu. Seketika itu juga sontak Bu Syalimar mematung. Tangannya masih memegang piring yang niatnya ingin menyajikan buat anaknya. Pikiran Bu Syalimar kosong. Perlahan ia meletakkan piring itu di atas meja. Hatinya tersayat-sayat. Lagi-lagi Bu Syalimar menangis. Fahri tak melihat.
Di kamar Fahri terlentang. Matanya basah menyadari keluarganya sudah tak utuh lagi. Keluarganya sudah terbelah. Akan ada seorang nahkoda di pandu oleh dua orang awak dalam satu kapal. Fahri gamang. Perlahan ia menangis. Menyesal dengan sikap ibunya yang tidak ada bijaksananya sama sekali. Entah apa niatan hati sang ibu. Fahri masih Menangis. Bu Syalimar juga masih menangis. Mereka, sama-sama menangis. Seperti langit malam yang ikut menangis. Hujan turun semakin deras. Membuat pecah tangis mereka hilang dalam senyapnya suara alam. Kawan, kalau kalian melihat mereka. Mustahil tak menitikkan air mata.
Pagi itu Fahri tidak bersekolah. Dia mengendarai sepedanya meluncur entah kemana. Diam-diam Bu Syalimar mengikuti. Membuktikan apa yang selama ini tetangganya sering katakan tentang anaknya, bahwa anaknya sekarang kerjanya adalah mencuri. Demi membunuh rasa penasaran itu, Bu Syalimar pun mengamati gerak gerik Fahri. Hatinya ketar ketir.
“Astagfirullah aladzim!” Bu Syalimar terkejut. Perlahan matanya berkaca-kaca. Dada Bu Syalimar langsung terasa sesak. Tubuhnya lemas. Perempuan paruh baya itu mengelus dadanya seiring derai air matanya menetes-netes. Bu Syalimar bertasbih memuji Tuhan. Berdoa agar anaknya tak kualat. Bu Syalimar tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia hanya bisa menangis. Bu Syalimar menyandarkan tubuhnya ke dinding masjid. Perempuan itu mederita.
Hari terus berlalu. Menggulung sisa-sisa kenangan menjadi debu. Lalu terbang terbawa angin dan hilang bersama udara. Menyisakan aroma kepedihan dan pahitnya luka. Yang terasa menohok menjahit jiwa. Mengiris asa. Mengebiri hati dan juga cita-cita. Semuanya kini sudah sirna. Semua terasa berbeda. Apalagi setelah ia harus menerima sosok seorang lelaki yang telah melepas status janda ibunya. Semakin besar pula alasan Fahri tak betah di rumah.
“Dari mana, kamu?” tanya Pak Sastro ketus. Fahri diam.
“Ayah tanya, kamu dari mana?!” sentak Pak Sastro garang.
“Memang penting, buat Ayah?” sahut Fahri datar.
“Fahri…” sela Bu Syalimar setengah emosi.
“Sudahlah, Buk! Ibu dan Ayah tak perlu repot-repot mengurusi Fahri. Kalian tak usah pura-pura peduli…” remaja itu kembali melangkah. Pak Sastro masih emosi. Secepat bertindak ia meraih pundak Fahri.
Plaaak!
Fahri tertegun. Bu Syalimar pun tertegun. Hening. Fahri hanya memegangi pipinya yang memerah. Terasa panas.
“Kamu ini benar-benar sudah kelewatan, Fahri! Sikapmu pada Ayah dan Ibumu sungguh keterlaluan. Kamu ini kenapa? Kalau Ayah dan Ibu ada salah, jelaskan. Jangan hanya membuang diri dengan sikapmu yang kekanak-kanakkan!”
Fahri tertegun.
“Ayah tanya. Kenapa kamu mencuri, Fahri? Apa uang yang Ayah berikan untukmu kurang, hah?!!!”
Fahri masih diam.
“Kamu tahu, kami ini malu punya anak seperti kamu. Sangat malu. Orang-orang menggunjingmu dan membuat telinga kami panas setiap hari. Kamu dikenal sebagai pencuri. Tukang bolos sekolah. Suka keluyuran nggak jelas. Bahkan yang lebih parah, beberapa orang bilang kamu suka main ke club malam. Apa itu jalan hidupmu sekarang, Fahri? Apa kamu sudah nggak punya masa depan? Kalau kamu ingin bebas. Silakan. Kamu bisa bebas sekarang…” Fahri masih tertegun. Matanya berkaca-kaca.
“Tapi ingat, Nak! Mencuri uang masjid itu sudah sangat amat kelewatan. Kamu sama saja seperti orang yang tak punya iman. Kamu seperti orang yang tak mengenal agama. Kamu buta mata, buta hati. Kamu mau jadi anak terkutuk?!”
Sepertinya Fahri sangat lelah. Hingga syaitan merasuki aliran darahnya. Mata Fahri memerah. Darahnya mendidih. Seketika itu juga Fahri menghantam wajah Pak Sastro hingga lelaki tua itu jatuh tersungkur, bapak tiri yang menurutnya sangat arogan dan sok bijak. Sang ibu menangis. Pak Sastro nyaris kalap. Suasana rumah itu tak ada nyamannya dalam hati Fahri. Dengan langkah cuek dia menuju kamarnya. Dia benci karena ibunya mau menikah lagi.
Fahri tak tahan lagi. Ia marah entah pada siapa. Sebuah tinjuan keras mendarat pada cermin malang lemari pakaiannya. Darah segar menetes. Napas Fahri terengah-engah. Karena jiwanya sungguh sangat lelah. Darah itu terus menetes. Fahri terpekur. Menyesal telah menghantam sang ayah.
Di sekolah, Fahri duduk di depan kelas. Ia menatap beberapa anak kelas lain berjalan di lapangan. Dua orang lelaki diantara mereka berbisik seiring mata mereka melihat Fahri risih. Remaja labil itu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka juga tetangga Fahri. Emosi Fahri memuncak. Ia berjalan mendekati dua orang itu.
“Kalian bicara apa, tadi?” tanya Fahri sambil mencengkram kerah kedua temannya itu.
“Ngg-nggak, kami nggak ngomong apa-apa tentang kamu…”
“Arrrghhh! Jangan bohong!” sentak Fahri. Kedua remaja itu mengekrut. Tanpa banyak cakap Fahri langsung meninju kedua remaja itu bergiliran. Meski keduanya sudah memohon ampun, Fahri tak bergeming, hatinya makin kalap. Ia terus memberi kedua penggunjing itu bogem mentah hingga dua remaja itu babak belur. Beruntung, beberapa teman Fahri datang dan melerai.
Siang harinya Fahri di sidang di ruang BP. Lagi-lagi kedua orangtunya harus menanggung malu, cibiran dan cercaan menghantam hati kedua orang tuanya bertubi-tubi. Tidak ada alasan mendasar yang membenarkan apa yang Fahri lakukan pada kedua teman di sekolah tadi pagi. Apalagi hanya karena hal sepele, mengejek.
Setibanya di rumah. Fahri di lucuti habis-habisan. Ia diceramahi ayahnya. Di nasehati ibunya. Dasar Fahri. Dia sudah tidak bisa lagi di beri pencerahan. Dia menganggap semua yang ia lakukan selama ini benar. Hanya saja kedua orangtunya yang tidak mengerti. Itulah anggapan dirinya.
Seolah biang keladi dari semua masalah. Malam harinya. Kedua orang tua Fahri kembali di kejutkan dengan kedatangan seorang polisi intel. Polisi itu mencari Fahri dengan alasan bahwa Fahri ada sangkutan dengannya karena telah terbukti mengkonsumsi obat-obatan haram. Sontak sang ayah syok. Sang ibu langsung menangis. Mereka sangat terpukul. Malam itu juga Fahri keluar dari rumahnya ikut bersama polisi itu. Sedangkan kedua orangtuanya tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya bisa menangis. Menanggung derita. Lahir batin. Bisik-bisik tetangga mau tidak mau membuat wajah mereka menebal.
Sehari berlalu. Sepekan pun terlewati. Sebulan sudah dijalani. Kini Fahri telah pulang. Namun bukan sambutan dan senyuman yang menjamunya. Melainkan amarah dan kebencian penuh murka dari sang ayah.
“Anak kurang ajar. Tak tahu diuntung!!!” pekik Pak Sastro kalap. Fahri diam. Dua tamparan mendarat di pipi Fahri. Ayahnya tak lagi peduli. Sang ibu hanya bisa merintih. Merintih hati. Merintih jiwa.
“Maafkan Fahri, Yah!”
“Cukup! Ayah tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulutmu. Ayah sudah sangat malu karena sikapmu pada kami selama ini. Kamu seperti melempar kotoran pada muka kami. Kamu itu liar, Fahri. Liar!”
“Yah… Sabar, Yah. Biar Fahri menjelaskan…” sela ibunya namun tak di pedulikan lagi oleh sang ayah.
“Nggak usah dibela lagi anakmu ini, Buk! Dia sudah keterlaluan. Anak seperti ini jangan dikasih ampun. Biar dia mengerti! Sudah banyak dia membuat masalah. Sudah cukup bersabar kita membiarkannya. Sekarang, biarkan dia bebas.” sahut sang ayah emosi.
“Maafkan Fahri, yah…” kata remaja itu getir.
“Sekarang kamu pergi. Pergi dari rumah ini. Cepat!” teriak Pak Sastro tengsin. Fahri meminta maaf pada orang tuanya. Dia meminta mereka mendengar penjelasannya. Namun sayang. Ayah Fahri tak mau mendengar apa-apa lagi.
“Biar kamu puas tinggal di luar. Biar kamu sadar. Di luar itu nggak mudah hidup enak, biar kamu tahu arti susah. Sekarang kamu boleh pergi, tinggalkan Ayah dan Ibumu. Jangan kembali sebelum kamu menyadari dan menyesali semua perbuatanmu selama ini. Pergi!!!” bentak Pak Sastro sambil menutup pintu.
Fahri terpaksa pergi dari rumahnya. Tanpa membawa apa-apa. Gerimis mengiringi langkah remaja labil itu. Dia tidak tahu harus melangkahkan kakinya kemana lagi. Orang-orang kini sudah membencinya. Fahri pergi ke rumah temannya, Ranu.
Dulu, dia sering pulang dari bar dan main ke rumah temannya itu. Hanya seminggu Fahri betah tinggal disana. Pasalnya. Dia tidak ingin menjadi beban keluarga temannya itu. Fahri menyadari. Fahri tahu diri. Dia memutuskan untuk pamit.
Hal yang Fahri tak pernah duga sama sekali adalah. Dia tidak diberi tahu tentang kabar Pak Sastro yang kecelakaan beberapa hari terakhir. Fahri syok. Dia merasa dirinya tak di anggap lagi. Fahri menangis. Dia sangat terpukul.
Malam itu, tepat seminggu Pak Sastro pulang dari rumah sakit. Fahri diam-diam mengunjungi rumah orang tuanya. Salah satu kerabat Pak Sastro tidak terima. Ia meminta Fahri segera meninggalkan rumah itu. Fahri menangis. Dia ingin bertemu ibunya. Sayang, menurut pengakuan Hamdi–adik Pak Sastro. Ibu Fahri tidak mau menemuinya lagi.
Oh Tuhan. Fahri semakin terpukul. Sebegitu bencikah sang ibu padanya kini?! Sampai-sampai tak mau lagi bebicara padanya? Dengan langkah berat Fahri pun pulang diselingi derai air mata. Tetangga yang melihatnya bukannya bersedih atau iba. Malah memaki dan mengumpat. Mengutuk remaja itu. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sempat melempari Fahri dengan kaleng bekas minuman. Fahri tak peduli lagi. Dia sudah cacat hati. Cacat mental. Cacat diri. Untuk terakhir kalinya Fahri melihat rumahnya. Ia menitikkan air mata. Nuraninya ingin sekali menjenguk sang ayah. Namun apa daya tangan tak sampai. Keluarga sudah membencinya.
16 April 2013
Bu Syalimar duduk di atas sajadah. Air matanya masih menetes. Antara bahagia, bangga, sedih, dan terharu, Bu Syalimar berdoa. Bayangannya kembali pada saat penuturan seorang Bapak Tua pemulung sampah kota yang singgah ke rumah Bu Syalimar waktu itu dan menceritakan nasib Fahri.
“Saya sedang istirahat. Duduk di serambi masjid Al-Ikhlas. Malam itu tiba-tiba saya mencium aroma wangi seperti minyak kasturi. Saya cari bau itu. Tidak ketemu. Selang beberapa lama bau wangi itu pun menghilang. Saya sempat merinding.
Karena hari sudah malam, akhirnya saya memutuskan untuk shalat isya di masjid sebelum saya pulang ke rumah. Setibanya di dalam masjid, saya di kejutkan karena tiba-tiba saya kembali mencium aroma wangi itu. Saya perhatikan sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Saya sempat berfikir, aroma wangi masjid tidak seperti ini baunya. Ini bau alami. Lagi-lagi saya sempat merinding.
Setelah selesai shalat, saya tersentak. Tiba-tiba seorang lelaki muda entah kapan datanganya, saya lihat sudah terlelap di depan mimbar menghadap kiblat. Padahal sebelumnya saya yakin tidak ada siapa-siapa di dalam masjid itu selain diri saya sendiri. Saya putuskan mendekatinya karena saya anggap pemuda itu tertidur. Setelah saya sentuh tangannya. Saya merinding. Pemuda rupanya itu telah meninggal. Tapi saya yakin meninggalnya belum lama. Karena wajahnya masih merona dan tampan tersenyum. Dan subhanallah. Aroma wangi itu ternyata dari keringat pemuda itu yang belum kering. Saya pun akhirnya memanggil warga. Dan saya baru tahu, kalau pemuda itu adalah anak Ibu…” kelakar Bapak Tuan itu panjang lebar.
Sehari yang lalu. Selain Bapak Tua, Ranu datang dan menjenguk Bu Syalimar. Setelah berbasa basi, Ranu mengajak Bu Syalimar berbicara empat mata. Bu Syalimar terheran-heran.
“Apa ini, Nak?” tanya Bu Syalimar setelah menerima amplop dari Ranu. Remaja itu tersenyum.
“Amplop itu, Buk! Berisi uang yang selama ini pernah Fahri kumpulkan buat saya. Dia bekerja di club malam selama sebulan, menjadi pelayan hanya demi membantu ibu saya berobat, Buk! Saya sempat menolak. Tapi Fahri keukeh. Dia ikhlas katanya. Namun, diam-diam saya bertekad. Akan mengembalikan semua uang itu setelah saya bekerja. Alhamdulillah. Sekarang saya sudah bekerja, dan saya bisa memulangkannya. Semoga Ibu berkenan menerimanya…” kelakar Ranu membuat jantung Bu Syalimar nyaris meledak.
“Jadi, selama ini Fahri telah membantumu?”
“Ya, Buk. Fahri keluar tiap malam hanya untuk bekerja demi membantu saya dan keluarga saya. Dia juga sering curhat sama saya, ingin sekali Fahri makan malam bersama Ibu di rumah. Tapi dia tidak bisa. Karena waktunya bekerja tak memungkinkan Fahri pulang ke rumah…”
“Perlu Ibu ketahui juga. Makanan Bu Syalimar yang sengaja di sediakan buat Fahri sebenarnya tidak di makan kucing seperti apa yang sering Ibu katakan. Tetapi diam-diam Fahri yang memakannya setelah Bu Syalimar tertidur. Dia sering bilang begitu…” sambung Ranu. Bu Syalimar sangat terpukul. Dia tersedu sedan.
Andi dan Hendra pun datang ke rumah Fahri. Mereka menceritakan, kalau Fahri terpaksa menghajar mereka karena Fahri menganggap gunjingan mereka terhadap Fahri itu sangat kelewatan. Mereka menyadari dan mengakui. Mereka memang telah menggunjing ibu Fahri yang menikah lagi dengan Pak Sastro dengan berbagai tuduhan dan juga umpatan yang terdengar menyakitkan. Karena Fahri tak terima, Fahri pun terpaksa melakukan hal itu. Andi dan Hendra pun meminta maaf. Mereka yang salah.
Sehari sebelumnya. Di waktu berbeda, pun seorang lelaki muda bernama Lukman yang malam itu pernah membawa Fahri ke kantor polisi datang menemui Bu Syalimar. Perempuan itu semakin terkejut-kejut mendengar penejelasan polisi intel itu.
“Maaf, Buk! Sebenarnya kami menyewa anak Ibu untuk mencari informasi tentang salah satu oknum guru di sekolah Fahri yang terlibat atas kasus obat-obatan terlarang. Kami sengaja membuat pengakuan palsu bahwa Fahri mengonsumsi obat-obatan itu hanya demi menggabungkannya dengan salah satu tahanan yang kami duga antek dari guru tersebut. Ternyata usaha kami tidak sia-sia, Buk. Fahri sangat membantu. Dan ini, upah yang seharusnya sudah kami berikan pada anak Ibu sebulan yang lalu. Namun, dia hanya menerima separuhnya. Yang saya dengar, uang itu dia pakai buat panti asuhan di sebelah masjid Al-Ikhlas.” Jelas Lukman membuat Bu Syalimar tertegun-tegun. Dia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang selama ini datang dengan sendirinya dan membuka tabir. Kini semuanya jelas. Fahri tidak seperti apa yang orang-orang katakan selama ini. Bu Syalimar berdoa penuh kasih. Berharap anaknya mendapat tempat yang layak. Dia tersenyum dalam tangis.
Di atas batu nisan. Bu Syalimar menabur bunga mawar. Ia tak berhenti berdoa pada Yang Maha Kuasa. Air matanya sesekali menetes, begitu menyadari anaknya seorang khusnul khatimah. Kini, Bu Syalimar telah ikhlas. Melepas sang anak tercinta mendahului dirinya juga suaminya. Tak jauh di belakang Bu Syalimar, Pak Sastro berjalan perlahan mendekat. Mengecup jilbab Bu Syalimar khidmat. Mereka, sama berdoa mengharap ridho. Ridho Tuhan atas ridho mereka.
“Semoga Allah melapangkan tempatmu, Nak. Maafkan juga Ibu yang tidak menyadari penyakitmu – Infeksi lambung. Semoga doa dan air mata Ibu ini sanggup meluluhkan hati Mungkar dan Nakir. Semoga langit dan bumi serta samudera bertasbih mendoakanmu. Ibu ikhlas, Nak. Ibu ridho. Doa Ibu menyertaimu. Allahummaghfirlahuu. Warhamhu. Wa’aafihii. Wa’fu’anhu.”


by:

Nikmatul Ilmi Annadliroh

akan ku cari nama.mu disepertiga malam.ku ..

cinta dalam diam.ku .. 
haruskah kau tahu jika aku mencintaimu? 
ku rasa tidak! 
karena cinta itu tag bisa terungkap agar bisa terlihat, hanya bisa drasa dlm hati .. 
bukan aku tag berani mengurai, namun ku takut dlm menempatkan.nya! 
karena yg menurutku baik, blm tentu baik menurut.Nya .. 
ku ingin yg terbaik untk Robb.ku .. 
sebenarnya, acuh ku bukan berarti mengabaikan.mu.. 
diam ku bukan berarti tag mengingat.mu.. 
karena aku.pun insan biasa .. 
ada perasaan, 
ada keinginan, 
ada harapan, 
namun aku merasa diri ini blm pantas untk itu .. 
biar rasa ini tercipta, 
akan ku simpan dsudut hati, dan biarkan Alloh saja yg tahu! 


ku terbangkan sayap angan ke angkasa, agar nafsu tag menyeret.ku inginkan cinta, 
akan ku cari nama.mu dsepertiga malam.ku .. 
aku harap kau lah yg tertulis di lauh mahfudz untk ku .. 
dan jika bukan, aku percaya takdir.Nya adalah yg terbaik .. 

Senin, 13 Januari 2014

hakikat diri akan arti kehidupan PENDAKI


     Mayoritas orang bilang mendaki gunung hanyalah perbuatan yang menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan uang saja ..                                                                                                                          
Sesungguhnya hal hal yang terlihat mudah justru hal yang paling sulit, orang besar selalu mudah mengatasi masalah besar, namun selalu sulit ketika berhadapan dengan masalah-masalah kecil. mungkin hampir semua pendaki gunung akan mudah mengatasi rasa dingin, medan yang berat, atau alam yang kejam karna telah terbiasa, akan tetapi ketika dihadapkan pada pertanyaan seperti itudari orang terdekatnya, belum tentu semua pendaki gunung mampu mengatasinya. kebanyakan dari mereka lebih memilih diam atau menghindar dari pada harus melakukan sesuatu yang menurutnya sia-sia saja, yakni menjelaskan kepada orang yang gak akan bisa mengerti. 



     Pendaki gunung adalah orang yang telah berguru dengan alam, guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. jadi bisa dibilang orang-orang yang berguru itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru, maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta. karna ilmu tanpa batas sumbernya hanya dari Tuhan, maka Alam adalah sebagai medianya. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan ilmu kepada kita. jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. ilmu yang tak terbatas dan tak pernah bisa didapatkan hanya dari bangku sekolah atau kuliah saja. yaitu ilmu tentang hakikat diri dan pemahaman akan arti kehidupan ..












Jumat, 03 Januari 2014

KITA adalah SAHABAT



proses sebuah persahabatan tidaklah mudah dan sesingkat yang kamu bayangkan, karna sebuah persahabatan akan berawal dari sebuah pertemuan, saling membantu layaknya teman dan selalu ada dikala susah maupun senang, naahh dari situlah sebuah arti persahabatan terlahir ... 
Persahabatan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Persahabatan menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Kata Kahlil Gibran dalam puisinya kalau sahabat itu adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi. dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Ketika berbagi kebahagiaan dengan sahabat kebahagiaanpun bertambah, Begitu pula sebaliknya, ketika kita berbagi kesedihan, kesedihanpun akan berkurang. itulah hebatnya hubungan persahabatan yang sering terangkai dalam untaian Kata-Kata Mutiara Persahabatan. Kata-Kata Mutiara Persahabatan dapat memberikan kesan bagi orang yang membaca dan menggunakannya, Kata-Kata Mutiara Persahabatan dapat memperat jalian persahabatan karena didalamnya mengandung pesan yang dapat menumbuhkan semangat dan kesadaran akan pentingnya seorang sahabat.

Kamis, 24 Oktober 2013

puing kenangan (Manajemen Perbankan Syari'ah)


 Semua tentang kita ini tag mudah bagiku untuk menghapus cuilan2 kisah saat indah bersama kalian ..
Hanya ada satu puing kenangan terindah yang selalu terukir dalam sanubari, namun semua itu terlalu indah untuk ku pandang, karna terlalu istimewa untuk ku kenang .. hanya untaian kata Terima Kasih lah yang selalu ku pinta, kepadaMu Wahai Sang Pencipta .. ;)

#ManajemenPerbankanSyari'ah

HENING bukan berarti SENDIRI


Alloh memang sudah kasih aku jalan dalam keheningan.. dan memang benar, keheningan ini lah yang sudah mengantarkanku dalam kebahagiaan .. B|

dalam hening aku mulai bisa belajar warna dan binar dunia, dalam hening aku belajar untuk tidak merasa sepi,
karna dalam hening tidak harus sunyi ..
dan karna HENING bukan berarti SENDIRI ... ;)

diantara kita


Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang, Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Hhhmmm. Kenapa tak hujan saja? Mungkin dengan hujan yang turun, tak ada lagi mendung yang bergelayut menutupi angkasa. Kenapa tak hujan saja? Hujan yang bisa menghalau kabut-kabut yang menggerogoti setiap sendi. Kenapa tak hujan saja? Dan setidaknya aku mampu menutupi linang-linang air yang menetes.
Di sore yang lalu. Mendung sore tak mengusik. Ada begitu banyak mendung namun tak bisa membuatku menggugat cuaca. Mendung yang lebih hebat dari ini pun tak mampu menghalau.
Aku, engkau, kita. Sebuah cerita yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada. Aku, engkau, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, engkau, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.
Seharusnya di mendung yang sama, aku, angkau, kita, bisa menikmatinya. Tarik ulur cuaca menjadi sebuah drama kolosal. Tarik ulur cuaca yang bisa menjadi sebuah inspirasi baru. Sayangnya, mendung sama yang pernah aku, engkau, kita lihat kini berbeda. Semuanya terasa hampa. Bukan aku yang sedang menikmati drama kolosalnya. Bukan engkau yang menjadi penonton. Bukan kita yang duduk di ujung dermaga menyaksikan kepungan awan gelap yang menutupi ufuk barat. Yang ada kini hanya aku seorang yang terduduk lesu. Melihat segalanya begitu keras. Tidak punya makna. Hampa.
Waktu terlalu cepat mengusir cerita yang baru saja dirangkai dari kumpulan kata. Rangkaian puisi yang dirangkai lewat rima dan syair-syair. Puisi yang seharusnya menjadi buku yang menceritakan tentang aku, engkau, kita. Hanya tercipta satu halaman dan kehabisan kata menjadi lembaran-lembaran putih.
Aku pernah begitu menutup diri atas semua manusia yang datang. Aku pernah tertunduk lesu pada setiap lelaki yang hadir. Aku pernah mengenyahkan jauh-jauh perasaan yang kadang menggelitik hati karena begitu takut untuk jatuh pada kenangan lama. Aku pernah membuang jauh-jauh semua perasaan hati yang kutakutkan bisa menguras habis keping hati. Kepingan karena luka yang lama. Aku pernah kehilangan segalanya. Segala tentang hati terkubur begitu jauh.
Engkau yang kemudian datang. Menciptakan sebuah gemuruh dan angin topan dahsyat yang bisa membuatku lupa. Lupa aku harus tetap tertidur dalam kubur yang kubuat sendiri. Engkau yang datang seharusnya tidak mengusik dunia yang kubangun dengan begitu senyap. Engkau yang datang tak seharusnya membuatku merasa kembali hidup. Aku berusaha menghalau, namun tetap tak bisa. Tak mampu. Aku ternyata berlari untuk segera meninggalkan duniaku. Menujumu. Ke arah dimana engkau berdiri.
Kini, segala tentang aku, engkau, kita terkikis gelombang waktu. Semunya berakhir tanpa mampu kukendalikan. Aku terhempas dengan begitu keras saat gelombang datang. Aku, yang seharusnya tetap berada dalam dunia kita, terbuang kembali ke dunia gelap. Sunyi dan senyap. Dan engkau, tetap pada duniamu. Jarak begitu jauh mengantarai kita. Bahkan untuk sekedar mendengar desahmupun tak bisa kulakukan.
Kita tinggal cerita.
Untuk kesekian kali, aku harus belajar mengikhlaskan. Belajar melepaskan. Belajar bahwa kita akan tetap menjadi sebuah kenangan yang indah meski tak lagi serumpun.
Kita berakhir disini.
Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang. Tapi rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Air mata menetes. Aku harus memendam rasa. Rasa yang tak berujung. Air mata menetes, tapi bukan karena perih. Aku meneteskannya karena aku tersadar, keindahan rasa ini terlalu anggun hanya untuk sekedar dilupakan. Aku meneteskan air mata, karena itu caraku melepas beban. Melepas asa yang mungkin tak teraih. Meneteskan airmata menjadi sebuah syarat. Betapa semuanya begitu sayang untuk kubuang.

Aku, engkau, kita. Sebuah cerita yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada. Aku, engkau, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, angkau, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.
Tapi, aku, engkau, dan kita akan tetap ada dalam sejarah pergulatan cuaca. Cuaca dimana awan menggelantung pada hati yang tak terdefinisi.